Namanya Mariama, usianya 32 tahun. Dia bukan politisi, bukan pula pejabat tinggi. Ia seorang ibu tunggal dengan lima anak. Setiap hari, Mariama mempertaruhkan nyawanya demi sepotong roti. Dengan keberanian luar biasa, perempuan ini memanjat tali kapal di Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar, berharap dagangannya laku terjual kepada para penumpang kapal.
Bagi Mariama, tali kapal itu seperti jalan hidupnya: penuh risiko, tanpa pengaman, tanpa jaminan apapun. “Kalau jatuh, itu risikoku sendiri. Demi anak-anak, saya berani,” ucapnya tegas, meski ada getar dalam suaranya.
Mariama tidak pernah menerima gaji, apalagi tunjangan kinerja yang mencapai ratusan juta per bulan. Ia juga tidak menikmati anggaran sebesar 126 triliun rupiah setahun yang diterima sebagian kalangan di negeri ini. Sebaliknya, setiap kali Mariama membeli sesuatu, ia tetap membayar pajak—ikut berkontribusi pada negara yang hampir tak pernah peduli padanya.
Ironis, bukan?
Di negeri tempat Mariama hidup, ada segelintir orang yang menikmati kemewahan dari uang pajak, namun masih meminta jabatan tambahan. Mereka menerima begitu besar, tetapi terus meminta lebih banyak lagi. Sebaliknya, Mariama—yang berjuang mati-matian demi kelima anaknya—tak mendapat perhatian sedikit pun.
Mariama adalah potret nyata bahwa ada begitu banyak perempuan hebat di luar sana yang berjuang dalam senyap, bertahan demi keluarga tanpa mengharap belas kasihan dari siapapun.
Kisah Mariama adalah teguran keras bagi kita semua:
Negeri ini mungkin besar, tapi takkan pernah benar-benar maju, sebelum peduli terhadap orang-orang seperti Mariama.
Sampaikan kisah Mariama kepada dunia. Agar mereka sadar bahwa keadilan sosial bukan sekadar slogan, melainkan kewajiban yang nyata untuk diwujudkan